Era digital membawa perubahan signifikan dalam cara opini publik terbentuk. Internet dan media sosial memungkinkan setiap individu untuk menyampaikan pendapat mereka kepada khalayak luas dengan mudah dan cepat. Dalam konteks ini, opini publik tidak lagi sepenuhnya didominasi oleh media tradisional seperti televisi, radio, atau surat kabar, tetapi juga dipengaruhi oleh konten play228 yang diproduksi oleh individu atau komunitas daring. Kondisi ini memberikan kesempatan yang lebih besar bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam pembentukan opini publik.
Namun, keterbukaan ini juga menghadirkan tantangan, terutama terkait dengan penyebaran informasi palsu atau hoaks yang dapat memanipulasi opini publik. Algoritma media sosial sering kali memperkuat bias yang ada dengan menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, sehingga menciptakan ruang gema (echo chambers). Dalam ruang ini, opini yang beragam menjadi sulit diterima, dan masyarakat lebih cenderung mempercayai narasi yang mendukung pandangan mereka sendiri, terlepas dari fakta yang sebenarnya.
Peran media digital dalam membentuk opini publik juga mengarah pada kemunculan influencer dan tokoh opini yang memiliki pengaruh besar. Dengan audiens yang loyal, mereka dapat menyampaikan pesan atau membentuk persepsi publik tentang isu tertentu secara efektif. Namun, kepercayaan kepada individu-individu ini sering kali lebih didasarkan pada popularitas daripada kredibilitas, yang bisa menjadi tantangan dalam menghadirkan informasi yang benar dan seimbang.
Untuk membangun opini publik yang sehat di era digital, diperlukan literasi digital yang baik di kalangan masyarakat. Kemampuan untuk memverifikasi informasi, mengenali bias, dan berpikir kritis menjadi kunci untuk menghadapi derasnya arus informasi. Selain itu, pelaku media, pemerintah, dan organisasi lainnya perlu bekerja sama dalam menyediakan informasi yang akurat dan mendidik. Dengan cara ini, opini publik yang terbentuk dapat mendukung kemajuan masyarakat dan mendorong dialog yang konstruktif di tengah perbedaan pandangan.